Sabtu, 02 Juli 2011

Mobil Nasional, Mobil Murah

GEA dan Tawon
Para pelaku industri otomotif di Tanah Air sampai saat ini masih menanti rencana pemerintah mengeluarkan kebijakan insentif untuk program mobil murah dan mobil ramah lingkungan.

Rencana membuat mobil murah dan mobil ramah lingkungan ini gencar diwacanakan Kementerian Perindustrian. Sayangnya, sampai saat ini juga belum jelas kendaraan murah atau ramah lingkungan seperti apa yang diinginkan pemerintah. Keinginan untuk meluncurkan mobil murah itu pun sepertinya terus mulur, tertunda-tunda. Jangankan bentuk prototipenya akan seperti apa, insentif yang akan diberikan pun sampai sekarang juga belum jelas.

Awalnya, Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa mobil murah itu untuk masyarakat pedesaan, tapi belakangan disebut-sebut kendaraan ini juga akan dipasarkan secara nasional. Insentif yang diberikan pemerintah tadinya akan diumumkan pada April dan kendaraan itu akan diluncurkan pertengahan tahun ini, tapi yang pasti kedua-duanya sudah lewat tenggat waktu yang dijanjikan. Sedangkan harga mobil dengan kapasitas mesin sekitar 1.000 cc itu nantinya akan dipatok di kisaran Rp 40 juta untuk mobil murah dan Rp 80 juta untuk mobil ramah lingkungan.

Berbicara tentang program kendaraan di Tanah Air, mau tidak mau ingatan kita akan melayang pada rencana membuat mobil nasional yang dijual dengan harga murah sebelumnya. Mantan Presiden BJ Habibie setidaknya pernah menggagas pembuatan mobil murah bernama Maleo pada 1996. Namun, belum lagi sempat diproduksi, proyek Maleo kandas dengan munculnya program mobil nasional atau terkenal dengan sebutan mobnas Timor. Mobnas Timor merupakan proyek yang paling kontroversial di antara semua rencana pembuatan mobil nasional dengan harga murah yang pernah ada.

Lewat Instruksi Presiden, Keputusan Presiden, serta Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 1996, pemerintah memberi kepercayaan kepada PT Timor Putra Nasional (TPN) untuk mengembangkan proyek mobil nasional. Pemerintah, lewat empat bank pemerintah dan 12 bank swasta nasional, juga mengucurkan dana US$ 690 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun (nilai tukar Rp 2.500 per dolar Amerika Serikat).

Kini gagasan untuk membuat mobil nasional yang murah kembali bergema. Entah akan sampai ke mana lagi ujungnya, kita lihat saja!


Fin Komodo

Tentunya sekarang jika kita ingin membuat program mobil murah, program ini terbuka untuk seluruh pelaku industri otomotif. Tidak lagi hanya memberikan keistimewaan kepada satu perusahaan saja. Jangan sampai terulang lagi kebijakan seperti yang diberikan kepada TPN, sehingga sampai ikut mengundang reaksi dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Jika pemerintah ingin memberikan insentif, seperti pembebasan pajak dan bea masuk atau kemudahan perizinan, tentunya itu akan diberikan kepada semua pelaku.

Jika ingin memiliki industri mobil nasional atau mobil murah, pemerintah sekarang tentu harus memiliki konsep yang lebih jelas. Jangan lagi sekadar asal ingin memiliki ini atau itu, tanpa didasari struktur industri yang jelas. Inginnya punya mobil tapi struktur industri komponen dan industri pendukung lainnya tidak disiapkan, sehingga akhirnya komponen dan bahan baku harus diimpor.

Malulah kepada Malaysia! Suka atau tidak, negeri itu memiliki visi industri yang jauh lebih jelas. Di sektor otomotif misalnya, sekarang ini Proton mulai berkibar di pasar Indonesia. PT Proton Edar Indonesia, agen tunggal pemegang merek Proton Malaysia di Indonesia, tahun ini menargetkan kenaikan penjualan naik hingga 75% menjadi 3.500 unit dibandingkan realisasi di 2010 sebanyak 2.000 unit.


FinKomodo
Bandingkan dengan TPN yang akhirnya gulung tikar setelah krisis keuangan dan politik pada 1998. Ketika TPN diberi hak istimewa oleh pemerintah untuk mengembangkan mobnas pada 1996, pada April di tahun itu Perusahaan Otomobil Nasional Berhad (Proton) yang berkembang menjadi Proton Holdings Berhad meluncurkan Proton Wira (seri 400) di Zagreb, Kroasia, pasar ekspor Proton yang ke-21.

Sampai kini, Proton telah mengekspor produksinya ke 50 negara, antara lain ke China, Indonesia, Taiwan, dan Thailand. Juga ke pasar Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya. Pemerintah Malaysia sudah menyiapkan Proton jauh-jauh hari untuk menjadikan perusahaan ini sebagai industri kelas nasional dan kelas dunia sejak cikal bakal perusahaan itu didirikan pada 1983. Indonesia? Hari-hari ini masih memikirkan akan memberikan insentif apa. Konsep mobil murah seperti apa yang diinginkan pun juga belum jelas. - Ipot News
GEA dan Tawon
Para pelaku industri otomotif di Tanah Air sampai saat ini masih menanti rencana pemerintah mengeluarkan kebijakan insentif untuk program mobil murah dan mobil ramah lingkungan.

Rencana membuat mobil murah dan mobil ramah lingkungan ini gencar diwacanakan Kementerian Perindustrian. Sayangnya, sampai saat ini juga belum jelas kendaraan murah atau ramah lingkungan seperti apa yang diinginkan pemerintah. Keinginan untuk meluncurkan mobil murah itu pun sepertinya terus mulur, tertunda-tunda. Jangankan bentuk prototipenya akan seperti apa, insentif yang akan diberikan pun sampai sekarang juga belum jelas.

Awalnya, Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa mobil murah itu untuk masyarakat pedesaan, tapi belakangan disebut-sebut kendaraan ini juga akan dipasarkan secara nasional. Insentif yang diberikan pemerintah tadinya akan diumumkan pada April dan kendaraan itu akan diluncurkan pertengahan tahun ini, tapi yang pasti kedua-duanya sudah lewat tenggat waktu yang dijanjikan. Sedangkan harga mobil dengan kapasitas mesin sekitar 1.000 cc itu nantinya akan dipatok di kisaran Rp 40 juta untuk mobil murah dan Rp 80 juta untuk mobil ramah lingkungan.

Berbicara tentang program kendaraan di Tanah Air, mau tidak mau ingatan kita akan melayang pada rencana membuat mobil nasional yang dijual dengan harga murah sebelumnya. Mantan Presiden BJ Habibie setidaknya pernah menggagas pembuatan mobil murah bernama Maleo pada 1996. Namun, belum lagi sempat diproduksi, proyek Maleo kandas dengan munculnya program mobil nasional atau terkenal dengan sebutan mobnas Timor. Mobnas Timor merupakan proyek yang paling kontroversial di antara semua rencana pembuatan mobil nasional dengan harga murah yang pernah ada.

Lewat Instruksi Presiden, Keputusan Presiden, serta Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada 1996, pemerintah memberi kepercayaan kepada PT Timor Putra Nasional (TPN) untuk mengembangkan proyek mobil nasional. Pemerintah, lewat empat bank pemerintah dan 12 bank swasta nasional, juga mengucurkan dana US$ 690 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun (nilai tukar Rp 2.500 per dolar Amerika Serikat).

Kini gagasan untuk membuat mobil nasional yang murah kembali bergema. Entah akan sampai ke mana lagi ujungnya, kita lihat saja!


Fin Komodo

Tentunya sekarang jika kita ingin membuat program mobil murah, program ini terbuka untuk seluruh pelaku industri otomotif. Tidak lagi hanya memberikan keistimewaan kepada satu perusahaan saja. Jangan sampai terulang lagi kebijakan seperti yang diberikan kepada TPN, sehingga sampai ikut mengundang reaksi dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Jika pemerintah ingin memberikan insentif, seperti pembebasan pajak dan bea masuk atau kemudahan perizinan, tentunya itu akan diberikan kepada semua pelaku.

Jika ingin memiliki industri mobil nasional atau mobil murah, pemerintah sekarang tentu harus memiliki konsep yang lebih jelas. Jangan lagi sekadar asal ingin memiliki ini atau itu, tanpa didasari struktur industri yang jelas. Inginnya punya mobil tapi struktur industri komponen dan industri pendukung lainnya tidak disiapkan, sehingga akhirnya komponen dan bahan baku harus diimpor.

Malulah kepada Malaysia! Suka atau tidak, negeri itu memiliki visi industri yang jauh lebih jelas. Di sektor otomotif misalnya, sekarang ini Proton mulai berkibar di pasar Indonesia. PT Proton Edar Indonesia, agen tunggal pemegang merek Proton Malaysia di Indonesia, tahun ini menargetkan kenaikan penjualan naik hingga 75% menjadi 3.500 unit dibandingkan realisasi di 2010 sebanyak 2.000 unit.


FinKomodo
Bandingkan dengan TPN yang akhirnya gulung tikar setelah krisis keuangan dan politik pada 1998. Ketika TPN diberi hak istimewa oleh pemerintah untuk mengembangkan mobnas pada 1996, pada April di tahun itu Perusahaan Otomobil Nasional Berhad (Proton) yang berkembang menjadi Proton Holdings Berhad meluncurkan Proton Wira (seri 400) di Zagreb, Kroasia, pasar ekspor Proton yang ke-21.

Sampai kini, Proton telah mengekspor produksinya ke 50 negara, antara lain ke China, Indonesia, Taiwan, dan Thailand. Juga ke pasar Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya. Pemerintah Malaysia sudah menyiapkan Proton jauh-jauh hari untuk menjadikan perusahaan ini sebagai industri kelas nasional dan kelas dunia sejak cikal bakal perusahaan itu didirikan pada 1983. Indonesia? Hari-hari ini masih memikirkan akan memberikan insentif apa. Konsep mobil murah seperti apa yang diinginkan pun juga belum jelas. - Ipot News
thumbnail
Judul: Mobil Nasional, Mobil Murah
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Otomotif :

0 comments:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz