Minggu, 24 Juli 2011

Melacak nomor telepon Nazaruddin

INILAH.COM, Jakarta - Warga di Tanah Air dikejutkan tayangan dialog mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin dengan stasiun televisi. Inilah alasan buronan ini tak kunjung terlacak.

Banyak pihak pasti bertanya-tanya, “Darimana Nazaruddin menelpon?”. Menurut pengamat Teknologi Informasi (TI) Abimanyu Wachjoewidajat, secara teknis, para praktisi Telematika sudah mengetahui cara melacaknya.

Mengingat teknologi komunikasi saat ini umumnya sudah digital, maka telpon dengan durasi lama dari Nazaruddin tentunya bisa dilacak. Lalu mengapa Nazaruddin tak mengetahuinya?

Nazaruddin saat ini menjadi orang paling dicari dan tiap langkah jejak apapun yang mengarah pada keberadaannya merupakan informasi yang sangat beharga. Sehingga ia harus berusaha benar-benar anonymous (identitasnya tidak diketahui).

Menurut pria yang akrab disapa Abah ini, Nazaruddin tak mungkin sebegitu lugu hingga berani menelepon tanpa memastikan keamanannya. Berdasar kualitas suara dari percakapan yang terjadi, Abah yakin Nazaruddin tak menelepon dari perangkat selular. “Besar kemungkinan ia menelepon menggunakan Calling Card (CC)”.

Hal ini bisa diketahui melalui beberapa hal. Pertama, berkomunikasi dengan orang menggunakan CC memiliki pola suara yang persis seperti yang terjadi pada Nazaruddin, yakni terdapat jeda.

Kedua, CC merupakan cara termudah berkomunikasi secara aman dan anonymous karena bisa dibeli dimana saja, bahkan tanpa perlu identitas. Ketiga, CC umumnya menggunakan teknologi VoIP (komunikasi via internet). Yakni, menggunakan infrastruktur atau mediasi pengantar secara digital via internet.

Pada teknologi ini, karena ujungnya analog, maka konversi kualitas suaranya jadi berkurang. “Terlebih saat terdengar suara ponsel berbunyi saat ia berbicara di MetroTV pada detik 0:46-0:53 dan 1:22-1:25,” ungkapnya yakin pada INILAH.COM.

Selain melalui CC, metode aman lain yang bisa dipakai Nazaruddin adalah Call Conference (CF). Melalui metode ini, Nazaruddin berkomunikasi dengan rekannya terlebih dahulu kemudian rekannya tersebut melakukan panggilan ke MetroTV atau TVOne.

Setelah terhubung, Nazaruddin dan MetroTV atau TVOne bisa berbicara dan rekan Nazaruddin diam. Melalui cara ini, nomor yang tercatat pada pesawat penerima adalah nomor rekan Nazaruddin, bukan nomor Nazaruddin.

“Salah satu kunci pembuka misteri ini terletak pada kedua stasiun TV tersebut,” ujarnya. Meski begitu, Abah mengaku Nazaruddin bisa saja menelepon langsung ke jaringan PSTN stasiun TV, “Cara ini juga sangat mungkin dan biasanya juga menurunkan kualitas suara”.

Namun, karena adanya UU pers yang melindungi narasumber, polisi menjadi tak mudah melakukan pelacakan, kecuali mencari info ke Telkom guna memeriksa incoming call bila benar melalui PSTN yang nomornya pasti sangat banyak.

“Jika kemarin Nazaruddin menelepon melalui ponsel pribadinya, dipastikan hari ‘akhir pelariannya’ sudah dekat,” ungkapnya. Namun, Abah mengakui, selama Nazaruddin memakai salah satu dari dua cara tersebut atau bahkan gabungannya, maka masa kebebasannya bisa lebih lama lagi.

Senada, pengamat telekomunikasi Budi Raharjo mengatakan ada beberapa cara melakukan pelacakan Nazaruddin lewat sambungan teleponnya. Pelacakan bisa melalui call records, melakukan tracking dan pelacakan memanfaatkan BTS operator.

Melalui call records, detil lokasi dan lainnya bisa diketahui dan terlihat jelas. Metode tracking bisa diterapkan saat yang bersangkutan melakukan panggilan telepon. Namun sayangnya, proses pelacakan melalui metode ini memakan waktu yang sangat lama.

Pelacakan melalui BTS operator juga bisa dilakukan namun pihak berwenang harus bekerjasama terlebih dahulu dengan operator di luar negeri. Meski tak bisa secara tepat menunjuk lokasi, melalui BTS, area tempat buronan ini bisa diketahui.

Sedangkan untuk melacak lokasi buronan ini melalui Blackberry Messenger BBM, kerjasama dengan Research In Motion dan operator di luar negeri menjadi suatu keharusan. Jika Nazaruddin berada di luar negeri, pemerintah atau pihak berwajib tak bisa berbuat apa pun.

“Harus ada kerjasama terlebih dahulu dengan operator di luar negeri agar pelacakan bisa terus dilakukan,” ujar Budi saat diwawancara INILAH.COM via telepon (20/7). Pria yang akrab disapa Budi ini mengaku, lain halnya jika Nazaruddin di Indonesia, pelacakan bisa dilakukan dengan sangat mudah. [mdr]
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto menyatakan tak mudah menyadap telepon pada masa di mana teknologi informasi semakin canggih.

"Teknologi sekarang kan orang bisa menelpon tanpa memakai nomor asli. Call divert saja bisa, memakai voice protocol juga bisa. Itulah yang sedang dikembangkan kepolisian," kata Djoko, terkait desakan memburu posisi buron mantan Bendum Demokrat M Nazaruddin lewat penyadapan telpon, kepada wartawan, di pelataran Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (22/7).

Namun, Djoko mengatakan semua percakapan antara tersangka kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games, Nazaruddin dengan dua stasiun televisi nasional, sedang ditelusuri kepolisian. "Membutuhkan waktu untuk mengungkapnya karena yang bersangkutan tidak 24 jam bicara," jelas dia.

Terkait keberadaan suara jingle produk roti Sari Roti dalam percakapan itu, Djoko mengatakan, tak bisa disimpulkan bahwa keberadaan Nazaruddin otomatis ada di Indonesia.

"Sapa bilang (di luar negeri tak ada Sari Roti). Supermie juga ada. Di Malaysia bahkan ada jingle-nya. Dunia ini sudah tidak ada batasnya. Jadi, jangan dikira di Afrika tidak ada Indomie," kilah Menkopolhukam.

Pakar telematika Roy Suryo berpendapat Nazaruddin menggunakan telekonferensi saat berbicang-bincang dengan Metro TV, beberapa waktu lalu.

Telekonferensi itu itu dilakukan Nazaruddin bukan dari telepon pribadinya, melainkan melalui perantara telepon rekannya yang ada di Indonesia. Pernyataan Roy ini diperkuat dengan adanya suara lagu produk makanan di Indonesia yakni Sari Roti.

"Yang saya lihat dia tidak gunakan clear channel, dia gunakan calling card, voip, bisa beli kartunya di mana saja, tergantung negara yang mengeluarkan. Tergantung penyuara calling card-nya," ujar Roy kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Kamis (21/7/2011).

Menurut Roy, dugaan ini diketahui dengan diperkuat adanya suara lagu Sari Roti dalam sambungan telepon tersebut. Sebab suara lagu tersebut biasa didengar di Indonesia.

Roy menjelaskan, suara lagu itu memang asli, tetapi bukan dari pedagang eceran Sari Roti yang biasa berkeliling. Sebab suara itu terdengar langsung keras tanpa ada alur yang dinamis dari suara yang kecil ke suara yang besar.

Untuk itu Roy berkesimpulan dalam sambungan telepon itu Nazaruddin menggunakan sebuah alat bantu yang berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan sambungan telepon agar tidak bisa terdeteksi oleh orang lain.

"Bisa saja kemungkinana ia menggunakan divert, artinya dia punya teman di Indonesia, temennya itu yang melakukan divert call, jadi dia menelepon dulu ke sini yang dari sini memakai calling card, kemudian menelepon studio TV bersangkutan, jadi pas yang disini (temennya) pas lagi ada Sari Roti itu. Itu istilahnya conference call," ungkapnya.

Dikatakan Roy, meski Nazaruddin menggunakan alat tersebut bukan berarti dirinya tidak bisa dilacak keberadaanya. Sebab jika pemerintah bisa mengetahui distributor alat tersebut, maka otomatis posisi Nazaruddin bisa terlacak.

Selain itu, alat yang digunakan Nazaruddin ini diyakini oleh Roy dikendalikan oleh rekannya Nazar yang meneruskan sambungan telepon tersebut. Sebab rekannya yang menghubungkan itu dipastikan mengetahui bagaimana cara menggunakan alat itu agar tidak mudah dibajak.

"Kemungkinan ada orang membantu dia, bisa. Tapi belum tentu orangnya (Nazar) ada di Indonesia. Tapi belum tentu juga dia ada di negara lain. Ketika dengan temen di Tempo katanya ia sedang di Kamboja, tapi ketika dengan TV lain ia ada di negara yang sangat jauh."
INILAH.COM, Jakarta - Warga di Tanah Air dikejutkan tayangan dialog mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin dengan stasiun televisi. Inilah alasan buronan ini tak kunjung terlacak.

Banyak pihak pasti bertanya-tanya, “Darimana Nazaruddin menelpon?”. Menurut pengamat Teknologi Informasi (TI) Abimanyu Wachjoewidajat, secara teknis, para praktisi Telematika sudah mengetahui cara melacaknya.

Mengingat teknologi komunikasi saat ini umumnya sudah digital, maka telpon dengan durasi lama dari Nazaruddin tentunya bisa dilacak. Lalu mengapa Nazaruddin tak mengetahuinya?

Nazaruddin saat ini menjadi orang paling dicari dan tiap langkah jejak apapun yang mengarah pada keberadaannya merupakan informasi yang sangat beharga. Sehingga ia harus berusaha benar-benar anonymous (identitasnya tidak diketahui).

Menurut pria yang akrab disapa Abah ini, Nazaruddin tak mungkin sebegitu lugu hingga berani menelepon tanpa memastikan keamanannya. Berdasar kualitas suara dari percakapan yang terjadi, Abah yakin Nazaruddin tak menelepon dari perangkat selular. “Besar kemungkinan ia menelepon menggunakan Calling Card (CC)”.

Hal ini bisa diketahui melalui beberapa hal. Pertama, berkomunikasi dengan orang menggunakan CC memiliki pola suara yang persis seperti yang terjadi pada Nazaruddin, yakni terdapat jeda.

Kedua, CC merupakan cara termudah berkomunikasi secara aman dan anonymous karena bisa dibeli dimana saja, bahkan tanpa perlu identitas. Ketiga, CC umumnya menggunakan teknologi VoIP (komunikasi via internet). Yakni, menggunakan infrastruktur atau mediasi pengantar secara digital via internet.

Pada teknologi ini, karena ujungnya analog, maka konversi kualitas suaranya jadi berkurang. “Terlebih saat terdengar suara ponsel berbunyi saat ia berbicara di MetroTV pada detik 0:46-0:53 dan 1:22-1:25,” ungkapnya yakin pada INILAH.COM.

Selain melalui CC, metode aman lain yang bisa dipakai Nazaruddin adalah Call Conference (CF). Melalui metode ini, Nazaruddin berkomunikasi dengan rekannya terlebih dahulu kemudian rekannya tersebut melakukan panggilan ke MetroTV atau TVOne.

Setelah terhubung, Nazaruddin dan MetroTV atau TVOne bisa berbicara dan rekan Nazaruddin diam. Melalui cara ini, nomor yang tercatat pada pesawat penerima adalah nomor rekan Nazaruddin, bukan nomor Nazaruddin.

“Salah satu kunci pembuka misteri ini terletak pada kedua stasiun TV tersebut,” ujarnya. Meski begitu, Abah mengaku Nazaruddin bisa saja menelepon langsung ke jaringan PSTN stasiun TV, “Cara ini juga sangat mungkin dan biasanya juga menurunkan kualitas suara”.

Namun, karena adanya UU pers yang melindungi narasumber, polisi menjadi tak mudah melakukan pelacakan, kecuali mencari info ke Telkom guna memeriksa incoming call bila benar melalui PSTN yang nomornya pasti sangat banyak.

“Jika kemarin Nazaruddin menelepon melalui ponsel pribadinya, dipastikan hari ‘akhir pelariannya’ sudah dekat,” ungkapnya. Namun, Abah mengakui, selama Nazaruddin memakai salah satu dari dua cara tersebut atau bahkan gabungannya, maka masa kebebasannya bisa lebih lama lagi.

Senada, pengamat telekomunikasi Budi Raharjo mengatakan ada beberapa cara melakukan pelacakan Nazaruddin lewat sambungan teleponnya. Pelacakan bisa melalui call records, melakukan tracking dan pelacakan memanfaatkan BTS operator.

Melalui call records, detil lokasi dan lainnya bisa diketahui dan terlihat jelas. Metode tracking bisa diterapkan saat yang bersangkutan melakukan panggilan telepon. Namun sayangnya, proses pelacakan melalui metode ini memakan waktu yang sangat lama.

Pelacakan melalui BTS operator juga bisa dilakukan namun pihak berwenang harus bekerjasama terlebih dahulu dengan operator di luar negeri. Meski tak bisa secara tepat menunjuk lokasi, melalui BTS, area tempat buronan ini bisa diketahui.

Sedangkan untuk melacak lokasi buronan ini melalui Blackberry Messenger BBM, kerjasama dengan Research In Motion dan operator di luar negeri menjadi suatu keharusan. Jika Nazaruddin berada di luar negeri, pemerintah atau pihak berwajib tak bisa berbuat apa pun.

“Harus ada kerjasama terlebih dahulu dengan operator di luar negeri agar pelacakan bisa terus dilakukan,” ujar Budi saat diwawancara INILAH.COM via telepon (20/7). Pria yang akrab disapa Budi ini mengaku, lain halnya jika Nazaruddin di Indonesia, pelacakan bisa dilakukan dengan sangat mudah. [mdr]
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto menyatakan tak mudah menyadap telepon pada masa di mana teknologi informasi semakin canggih.

"Teknologi sekarang kan orang bisa menelpon tanpa memakai nomor asli. Call divert saja bisa, memakai voice protocol juga bisa. Itulah yang sedang dikembangkan kepolisian," kata Djoko, terkait desakan memburu posisi buron mantan Bendum Demokrat M Nazaruddin lewat penyadapan telpon, kepada wartawan, di pelataran Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (22/7).

Namun, Djoko mengatakan semua percakapan antara tersangka kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet SEA Games, Nazaruddin dengan dua stasiun televisi nasional, sedang ditelusuri kepolisian. "Membutuhkan waktu untuk mengungkapnya karena yang bersangkutan tidak 24 jam bicara," jelas dia.

Terkait keberadaan suara jingle produk roti Sari Roti dalam percakapan itu, Djoko mengatakan, tak bisa disimpulkan bahwa keberadaan Nazaruddin otomatis ada di Indonesia.

"Sapa bilang (di luar negeri tak ada Sari Roti). Supermie juga ada. Di Malaysia bahkan ada jingle-nya. Dunia ini sudah tidak ada batasnya. Jadi, jangan dikira di Afrika tidak ada Indomie," kilah Menkopolhukam.

Pakar telematika Roy Suryo berpendapat Nazaruddin menggunakan telekonferensi saat berbicang-bincang dengan Metro TV, beberapa waktu lalu.

Telekonferensi itu itu dilakukan Nazaruddin bukan dari telepon pribadinya, melainkan melalui perantara telepon rekannya yang ada di Indonesia. Pernyataan Roy ini diperkuat dengan adanya suara lagu produk makanan di Indonesia yakni Sari Roti.

"Yang saya lihat dia tidak gunakan clear channel, dia gunakan calling card, voip, bisa beli kartunya di mana saja, tergantung negara yang mengeluarkan. Tergantung penyuara calling card-nya," ujar Roy kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Kamis (21/7/2011).

Menurut Roy, dugaan ini diketahui dengan diperkuat adanya suara lagu Sari Roti dalam sambungan telepon tersebut. Sebab suara lagu tersebut biasa didengar di Indonesia.

Roy menjelaskan, suara lagu itu memang asli, tetapi bukan dari pedagang eceran Sari Roti yang biasa berkeliling. Sebab suara itu terdengar langsung keras tanpa ada alur yang dinamis dari suara yang kecil ke suara yang besar.

Untuk itu Roy berkesimpulan dalam sambungan telepon itu Nazaruddin menggunakan sebuah alat bantu yang berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan sambungan telepon agar tidak bisa terdeteksi oleh orang lain.

"Bisa saja kemungkinana ia menggunakan divert, artinya dia punya teman di Indonesia, temennya itu yang melakukan divert call, jadi dia menelepon dulu ke sini yang dari sini memakai calling card, kemudian menelepon studio TV bersangkutan, jadi pas yang disini (temennya) pas lagi ada Sari Roti itu. Itu istilahnya conference call," ungkapnya.

Dikatakan Roy, meski Nazaruddin menggunakan alat tersebut bukan berarti dirinya tidak bisa dilacak keberadaanya. Sebab jika pemerintah bisa mengetahui distributor alat tersebut, maka otomatis posisi Nazaruddin bisa terlacak.

Selain itu, alat yang digunakan Nazaruddin ini diyakini oleh Roy dikendalikan oleh rekannya Nazar yang meneruskan sambungan telepon tersebut. Sebab rekannya yang menghubungkan itu dipastikan mengetahui bagaimana cara menggunakan alat itu agar tidak mudah dibajak.

"Kemungkinan ada orang membantu dia, bisa. Tapi belum tentu orangnya (Nazar) ada di Indonesia. Tapi belum tentu juga dia ada di negara lain. Ketika dengan temen di Tempo katanya ia sedang di Kamboja, tapi ketika dengan TV lain ia ada di negara yang sangat jauh."
thumbnail
Judul: Melacak nomor telepon Nazaruddin
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Umum :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz