Sabtu, 23 Juli 2011

Mewujudkan Mobil Murah di Indonesia

Pameran otomotif terbesar Indonesia International (IIMS) 2011, resmi dibuka tadi siang. Rencananya, Wakil Presiden Boediono membuka acara ini, tapi batal, sehingga diwakilkan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Dalam pidato pembukaan IIMS 2011 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat (22/7/2011), Hatta menyampaikan apresiasi pemerintah, terhadap langkah Agen Pemegang Merek (APM) dalam melakukan riset dan pengembangan teknologi hijau (green technology), salah satunya dengan program low cost and green car. Dalam hal ini, Hatta memastikan, pemerintah akan mendukung dari segi insentif fiskal.

“Biaya R and D sangat mahal, dan produk itu (green car) tak bisa maju di pasar domestik tanpa dukungan pemerintah. Untuk itu kita berkomitmen,” kata Hatta Radjasa.

Dibandingkan dengan IIMS 2010, pameran kali lebih semarak. Agen pemegang merek yang berpartisipasi lebih banyak dan lebih beragam. Apabila di masa lalu APM yang berpartisipasi di IIMS lebih didominasi oleh APM Jepang, kini walaupun APM Jepang masih yang utama, APM dari Eropa, Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan mulai ikut meramaikan IIMS.

Dari pantauan Kompas.com di lapangan sehari sebelumnya, cuma Toyota, Honda, dan Nissan yang sudah rapi. Bahkan, terlihat juga beberapa pengisi acara sedang melakukan geladi resik supaya tampil optimal pada hari pembukaan besok.

Toyota dan Honda masih merupakan dua merek mobil Jepang yang paling menonjol. Di luar itu juga ada Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Mazda, Subaru, dan Nissan, yang kini juga memboyong Infinity. Dari Korea Selatan hadir Hyundai dan KIA. Dari Amerika Serikat hadir Chrysler dan Dodge yang mendampingi Chevrolet dan Ford.

Mampukah pemerintah mewujudkan mobil low cost and green car ? Bukankah sejumlah komponen mobil belum tersedia di dalam negeri. Menurut saya, ketersediaan komponen lokal harus menjadi syarat mutlak dalam memproduksi mobil murah.

Sejumlah komponen impor yang tidak tersedia di Indonesia adalah baja untuk otomotif. Kabarnya, perusahaan baja di Indonesia misalnya PT Krakatau Steel, hanya memproduksi baja untuk kebutuhan infrastruktur dan belum memproduksi baja otomotif. Selain itu, bahan dasar lain yang masih harus diimpor adalah karet sintetis dan plastik resin.

Sebetulnya, untuk mewujudkan cita-cita mobil murah, pemerintah perlu melakukan pengurangan pajak barang mewah, penangguhan bea masuk, dan termasuk pengurangan pajak daerah. Sayangnya, hingga saat ini belum ada detail persyaratan yang diberikan oleh pemerintah untuk program mobil murah.

Mungkinkah mobil murah dapat terwujud di Tanah Air dalam waktu dekat? Lantas, bagaimana dengan kesiapan sarana infrastruktur, terutama di kota-kota besar? Mobil murah, bukan berarti menjawab permintaan masyarakat atas kebutuhan kendaraan keluarga. Justru dengan mobil murah, ada 1001 masalah yang harus ditangani secara bersama, seperti meningkatnya kemacetan lalu lintas.

Salam Kompasiana!
Pameran otomotif terbesar Indonesia International (IIMS) 2011, resmi dibuka tadi siang. Rencananya, Wakil Presiden Boediono membuka acara ini, tapi batal, sehingga diwakilkan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Dalam pidato pembukaan IIMS 2011 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat (22/7/2011), Hatta menyampaikan apresiasi pemerintah, terhadap langkah Agen Pemegang Merek (APM) dalam melakukan riset dan pengembangan teknologi hijau (green technology), salah satunya dengan program low cost and green car. Dalam hal ini, Hatta memastikan, pemerintah akan mendukung dari segi insentif fiskal.

“Biaya R and D sangat mahal, dan produk itu (green car) tak bisa maju di pasar domestik tanpa dukungan pemerintah. Untuk itu kita berkomitmen,” kata Hatta Radjasa.

Dibandingkan dengan IIMS 2010, pameran kali lebih semarak. Agen pemegang merek yang berpartisipasi lebih banyak dan lebih beragam. Apabila di masa lalu APM yang berpartisipasi di IIMS lebih didominasi oleh APM Jepang, kini walaupun APM Jepang masih yang utama, APM dari Eropa, Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan mulai ikut meramaikan IIMS.

Dari pantauan Kompas.com di lapangan sehari sebelumnya, cuma Toyota, Honda, dan Nissan yang sudah rapi. Bahkan, terlihat juga beberapa pengisi acara sedang melakukan geladi resik supaya tampil optimal pada hari pembukaan besok.

Toyota dan Honda masih merupakan dua merek mobil Jepang yang paling menonjol. Di luar itu juga ada Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Mazda, Subaru, dan Nissan, yang kini juga memboyong Infinity. Dari Korea Selatan hadir Hyundai dan KIA. Dari Amerika Serikat hadir Chrysler dan Dodge yang mendampingi Chevrolet dan Ford.

Mampukah pemerintah mewujudkan mobil low cost and green car ? Bukankah sejumlah komponen mobil belum tersedia di dalam negeri. Menurut saya, ketersediaan komponen lokal harus menjadi syarat mutlak dalam memproduksi mobil murah.

Sejumlah komponen impor yang tidak tersedia di Indonesia adalah baja untuk otomotif. Kabarnya, perusahaan baja di Indonesia misalnya PT Krakatau Steel, hanya memproduksi baja untuk kebutuhan infrastruktur dan belum memproduksi baja otomotif. Selain itu, bahan dasar lain yang masih harus diimpor adalah karet sintetis dan plastik resin.

Sebetulnya, untuk mewujudkan cita-cita mobil murah, pemerintah perlu melakukan pengurangan pajak barang mewah, penangguhan bea masuk, dan termasuk pengurangan pajak daerah. Sayangnya, hingga saat ini belum ada detail persyaratan yang diberikan oleh pemerintah untuk program mobil murah.

Mungkinkah mobil murah dapat terwujud di Tanah Air dalam waktu dekat? Lantas, bagaimana dengan kesiapan sarana infrastruktur, terutama di kota-kota besar? Mobil murah, bukan berarti menjawab permintaan masyarakat atas kebutuhan kendaraan keluarga. Justru dengan mobil murah, ada 1001 masalah yang harus ditangani secara bersama, seperti meningkatnya kemacetan lalu lintas.

Salam Kompasiana!
thumbnail
Judul: Mewujudkan Mobil Murah di Indonesia
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Otomotif :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz