Sabtu, 23 Juli 2011

Sudah Saatnya Mobil BBG Diseriusi

Mobil Tawon BBG
JAKARTA - Surabayapost Online - Makin menipisnya bahan bakar minyak di dunia ditambah dengan tingginya harga minyak mentah dunia membuat bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang yang mewah. Harganya akan sulit dijangkau rakyat banyak. Dalam situasi seperti ini bahan bakar gas merupakan sebuah alternatif yang masuk akal. Pertamina pun meminta masyarakat dan pabrikan mobil menseriusi bahan bakar gas (BBG).

Di dunia, mobil penumpang pribadi yang menggunakan bahan bakar gas atau juga dikenal dengan compressed natural gas (CNG) yang di Indonesia lebih akrab disebut BBG, diperkirakan pasarnya terus naik. Menurut Pike Reasearch, perusahaan peneliti global, pasar mobil BBG di dunia meningkat dari 1,9 juta unit per tahun (2011) menjadi 3,2 juta unit pada 2016.

Karena itu, Pertamina mendorong pabrikan mobil untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap tipe yang dijualnya. Pertamina berharap gas akan menjadi salah satu pilihan disamping tipe mobil berbahan bakar bensin dan diesel.

Hal tersebut diungkapkan oleh Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) M. Harun di sela-sela Indonesia International Motor Show (IIMS) di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (23/7).

"Kita punya gas yang bilangan oktannya bisa mencapai 98 (sebagai perbandingan Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92, Red.). Gas bisa lebih efisien dibanding bensin karena pembakarannya sempurna, harganya juga jauh lebih murah," ujarnya.

"Tapi untuk mengembangkan pasarnya, kami tidak bisa sendiri. Masyarakat juga harus mendukung. Kami juga meminta teman-teman di Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap model yang dijualnya," urainya lagi.

Kemampuan Pertamina dalam menyediakan bahan bakar gas yang berkualitas menurut Harun sudah terbukti. Sebab, salah satu operator taksi yang menggunakan mobil mewah Toyota Alphard juga sudah berani mengkonversi mobilnya yang sebelumnya mengkonsumsi bensin ke gas.

Saat ini, Pertamina baru memiliki 8 SPBU yang menyediakan bahan bakar gas bernama Vigas yang dijual hanya dengan harga Rp 3.600 per liter. Itu pun baru ada di seputaran Jakarta.

"Itu dia. Kami berharap dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap keunggulan gas ini kami jadi bisa memperluas cakupannya," pungkas Harun.

Melanjutkan hasil penelitian Pike Reasearch, lonjakkan pasar mobil BBG terjadi seiring bertambahnya infrastruktur stasiun BBG di dunia dari 18.000 (2010) menjadi 26.000 tempat pada 2016. Berarti, pemilik kendaraan BBG makin mudah mendapatkannya. Selama ini, faktor utama yang masih menghambat perkembangan mobil BBG adalah stasiun pengisian yang masih langka.

Salah satu produsen yang mau menggarap BBG adalah Honda. Civic terbaru Gen-9 yang baru saja diperkenalkan, nantinya juga disediakan versi BBG. Dikabarkan Honda akan memasarkannya di 50 negara bagian di seluruh AS mulai akhir tahun ini. Sayang mobil jenis ii belum masuk ke Indonesia.

Masih menurut Pike Reasearch , kelebihan BBG, harganya lebih murah. Biaya operasional mobil yang menggunakan ekonomis. Di samping itu, kabondioksida yang dihasilkan tetap lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, kendati masih mengeluarkan emisi.

Sementara, Indonesia merupakan penghasil gas terbesar di dunia, belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Kendati program BBG sudah diluncurkan sejak 1980-an, namun sampai sekarang, khusus untuk kendaraan penumpang pribadi tidak jalan. Dulu hanya untuk taksi dan angkutan umum, seperti mikrolet. Sekarang BBG hanya digunakan oleh Transjakarta.

Pada kesempatan terpisah Presdir PT Hyundai Indonesia Jongkie D. Sugiarto, menyatakan, setidaknya ada 2 syarat agar program alih ke BBG ini berlangsung dengan sukses.

Pertama, program ini harus didukung oleh pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas yang memadai. "Hyundai adalah ATPM pertama yang memiliki izin memasang conversion Kit untuk BBG di pabrikan kami. Program ini akan sukses kalau pemerintah atau swasta membangun SPBG terlebih dahulu dimana-mana," ujar Jongkie.

Syarat yang kedua adalah harga bahan bakar Premium dan Solar bila dibandingkan dengan harga BBG harus 40 persen lebih mahal.

Dengan sendirinya konsumen juga akan beralih ke BBG, karena akan terjadi efisiensi dalam biaya operasi mobil pribadi atau kendaraan umum dan mobil yang berplat kuning. "Sebab harga Convension Kit masih berkisar Rp 15 juta tergantung kualitas dan besarnya tangki gas," pungkasnya.ins
Mobil Tawon BBG
JAKARTA - Surabayapost Online - Makin menipisnya bahan bakar minyak di dunia ditambah dengan tingginya harga minyak mentah dunia membuat bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang yang mewah. Harganya akan sulit dijangkau rakyat banyak. Dalam situasi seperti ini bahan bakar gas merupakan sebuah alternatif yang masuk akal. Pertamina pun meminta masyarakat dan pabrikan mobil menseriusi bahan bakar gas (BBG).

Di dunia, mobil penumpang pribadi yang menggunakan bahan bakar gas atau juga dikenal dengan compressed natural gas (CNG) yang di Indonesia lebih akrab disebut BBG, diperkirakan pasarnya terus naik. Menurut Pike Reasearch, perusahaan peneliti global, pasar mobil BBG di dunia meningkat dari 1,9 juta unit per tahun (2011) menjadi 3,2 juta unit pada 2016.

Karena itu, Pertamina mendorong pabrikan mobil untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap tipe yang dijualnya. Pertamina berharap gas akan menjadi salah satu pilihan disamping tipe mobil berbahan bakar bensin dan diesel.

Hal tersebut diungkapkan oleh Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) M. Harun di sela-sela Indonesia International Motor Show (IIMS) di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (23/7).

"Kita punya gas yang bilangan oktannya bisa mencapai 98 (sebagai perbandingan Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92, Red.). Gas bisa lebih efisien dibanding bensin karena pembakarannya sempurna, harganya juga jauh lebih murah," ujarnya.

"Tapi untuk mengembangkan pasarnya, kami tidak bisa sendiri. Masyarakat juga harus mendukung. Kami juga meminta teman-teman di Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) untuk menyediakan pilihan bahan bakar gas pada setiap model yang dijualnya," urainya lagi.

Kemampuan Pertamina dalam menyediakan bahan bakar gas yang berkualitas menurut Harun sudah terbukti. Sebab, salah satu operator taksi yang menggunakan mobil mewah Toyota Alphard juga sudah berani mengkonversi mobilnya yang sebelumnya mengkonsumsi bensin ke gas.

Saat ini, Pertamina baru memiliki 8 SPBU yang menyediakan bahan bakar gas bernama Vigas yang dijual hanya dengan harga Rp 3.600 per liter. Itu pun baru ada di seputaran Jakarta.

"Itu dia. Kami berharap dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap keunggulan gas ini kami jadi bisa memperluas cakupannya," pungkas Harun.

Melanjutkan hasil penelitian Pike Reasearch, lonjakkan pasar mobil BBG terjadi seiring bertambahnya infrastruktur stasiun BBG di dunia dari 18.000 (2010) menjadi 26.000 tempat pada 2016. Berarti, pemilik kendaraan BBG makin mudah mendapatkannya. Selama ini, faktor utama yang masih menghambat perkembangan mobil BBG adalah stasiun pengisian yang masih langka.

Salah satu produsen yang mau menggarap BBG adalah Honda. Civic terbaru Gen-9 yang baru saja diperkenalkan, nantinya juga disediakan versi BBG. Dikabarkan Honda akan memasarkannya di 50 negara bagian di seluruh AS mulai akhir tahun ini. Sayang mobil jenis ii belum masuk ke Indonesia.

Masih menurut Pike Reasearch , kelebihan BBG, harganya lebih murah. Biaya operasional mobil yang menggunakan ekonomis. Di samping itu, kabondioksida yang dihasilkan tetap lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar bensin, kendati masih mengeluarkan emisi.

Sementara, Indonesia merupakan penghasil gas terbesar di dunia, belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Kendati program BBG sudah diluncurkan sejak 1980-an, namun sampai sekarang, khusus untuk kendaraan penumpang pribadi tidak jalan. Dulu hanya untuk taksi dan angkutan umum, seperti mikrolet. Sekarang BBG hanya digunakan oleh Transjakarta.

Pada kesempatan terpisah Presdir PT Hyundai Indonesia Jongkie D. Sugiarto, menyatakan, setidaknya ada 2 syarat agar program alih ke BBG ini berlangsung dengan sukses.

Pertama, program ini harus didukung oleh pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas yang memadai. "Hyundai adalah ATPM pertama yang memiliki izin memasang conversion Kit untuk BBG di pabrikan kami. Program ini akan sukses kalau pemerintah atau swasta membangun SPBG terlebih dahulu dimana-mana," ujar Jongkie.

Syarat yang kedua adalah harga bahan bakar Premium dan Solar bila dibandingkan dengan harga BBG harus 40 persen lebih mahal.

Dengan sendirinya konsumen juga akan beralih ke BBG, karena akan terjadi efisiensi dalam biaya operasi mobil pribadi atau kendaraan umum dan mobil yang berplat kuning. "Sebab harga Convension Kit masih berkisar Rp 15 juta tergantung kualitas dan besarnya tangki gas," pungkasnya.ins
thumbnail
Judul: Sudah Saatnya Mobil BBG Diseriusi
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Otomotif :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz