Pengobatan alternatif tak jarang menawarkan metode penyembuhan yang cukup membuat mata terbelalak. Mulai dari penyembuhan penyakit jantung dengan lintah, pengobatan dengan bara api, pijat ular, hingga terapi listrik di atas bantalan rel kereta seperti yang dilakukan sejumlah warga di Jakarta Barat.
Hampir setiap pagi dan sore, sejumlah warga terlihat berbaring di atas bantalan rel kereta listrik yang berada tak jauh dari stasiun di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Mereka memanfaatkan bantalan rel tersebut sebagai media terapi listrik. Mereka percaya terapi semacam itu dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, rematik, asam urat, kegemukan dan kolesterol tinggi.
Dengan sensasi tubuh seperti tersengat listrik tegangan rendah, banyak warga yang telah merasakan manfaat terapi itu. Namun, terapi gratis itu bukan tanpa risiko. Dengan berbaring di lintasan rel yang masih aktif digunakan, mereka harus segera berdiri dan menjauh dari rel setiap mendengar tanda kereta hendak melintas.
Terapi listrik memang telah menjadi pengobatan alternatif yang banyak diminati. Menurut badan kesehatan dunia atau WHO, terapi listrik dapat menstimulasi jaringan di bawah kulit melalui saraf-saraf di dalam tubuh, juga menstimulasi sirkulasi darah di dalam tubuh oleh sistem saraf otomatis di dalam otak.
Menurut sumber lain, kepercayaan warga terhadap penyembuhan penyakit melalui terapi rel kereta api menyesatkan. Pasalnya hingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan hal tersebut mampu menjadi sarana pengobatan. Terkait hal ini Dinas Kesehatan DKI Jakarta kerahkan petugas Puskesmas setempat untuk melakukan penyuluhan terhadap warga.
“Pengobatan ini jelas lebih banyak risikonya dibanding manfaatnya. Selain membahayakan diri sendiri juga orang lain,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, Kamis (21/7). Terlebih sampai saat ini belum ada penelitian apapun yang menyatakan rel kereta dapat menyebuhkan penyakit.
Oleh karenanya Dien mengaku telah mengistruksikan petugas Puskesmas Kecamatan dan kelurahan untuk memberikan penyuluhan terhadap hal ini. “Mulai hari ini (red-kemarin) petugas Puskesmas telah dikerahkan untuk menjelaskan semua ini,” tandasnya.
Secara terpisah Kepala Daop 1 PT KA, Purnomo Radiq, menegaskan rel kereta bukan untuk terapi kesehatan. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik. “Saya belum dengar rel bisa menyembuhkan dan terapi kesehatan. Itu dilarang karena membayakan. Pada prinsipnya tidak boleh,” ujarnya.
Menurutnya, pihak PT KA akan memangil warga yang memberikan terapi rel listrik tersebut, untuk dilakukan pembinaan. “Kalau dipanggil mereka tidak datang, kita akan datangi dan diberikan pengertian tidak boleh. Akan dilakukan pembinaan karena itu tidak sepantasnya. Nanti kalau dilanjutkan kereta tidak akan jalan, kita akan bawa dasar-dasarnya kalau itu dilarang,” tandas Purnomo.
TETAP TERAPI
Sementara itu, puluhan warga terapi rel kereta api tetap melakukan pengobatannya, meskipun aparat Kelurahan Duri Kosambi memancangkan papan larangan warga melakukan terapi di rel tersebut.”kami tetap akan melakukan terapi sekalipun dilarang. Apakah kalau rakyat sehat tidak boleh dan kenapa papan larangan perda itu baru sekarang dipancangkan,’kata Budi, warga Kampung Pulo RT.004/08 Kelurahan Semanan.
Budi menderita darah tinggi, pusing dan bersin.”Kalau lagi bersin 3 sapu tangan basah semua, setelah saya terapi beberapa kali tiduran di rel sembuh.”ucapnya. Jika pemprov atau PT.KAI mau melarang silahkan pasang pagar yang tinggi atau buat rel layang, jadi warga tidak bisa masuk ke areal.
Penyembuhan melalui terapi rel amat dirasakan, kakek Sayuti,78, warga RT 007/02 Kelurahan Duri Kosambi, selama 2 tahun ia terbaring di rumah dan 3 kali diraqwat di rumah sakit. Dokter memvonisnya tulang bokongnya retak dan keropos.”Sejak saya jatuh tidak bisa duduk. Tapi setelah terapi di rel selama 2 bulan, tidak hanya duduk berjalanpun saya bisa dari rumah ke rel yang jaraknya cukup jauh.”kata kakek 22 cucu dari 8 anak.
Begitu pula Muhammad, warga RT.006/08 Semanan, menderita stroke 3 bulan,asam urat, darah tinggi, koresterol tinggi. Ia sudah berobat ke mana saja, bahkan ia pernah dibekam 9 gelas darah kotornya diambil.”ternyata saya terapi di rel bisa jalan lagi dan nggak pernah keleyengan,” jelasnya.
Warga yang datang terapi di rel dekat stasiun kereta Rawa Buaya Kelurahan Duri Kosambi banyak juga warga diluar wilayah cengkareng atau Kalideres. Seperti Johan BK warga Tangerang, ia menderita,lemah syahwat.”Beberapa kali saya terapi sekarang Ma Nyus lagi, no problem.he…he”tuturnya tertawa agak malu.
Terapi direl bukan hal yang tidak rasional karena dua orang Jepang sudah melakukan riset terhadap sejumlah warga yang melakukan terapi di rel.”jangan hanya mendengar atau melihat orang yang diterapi. Tapi buktikan dan rasakan dari aliran magnit yang disalurkan ke tubuh mengembalikan kesehatan.”kata Ny.Sakinah,42, warga Rw 08 Semanan.
Wakil Lurah Duri Kosambi, Firmansyah bersama Bimas dan babinsa, kamis sore memancangkan papanlarangan .Dilarang duduk, tiduran, berbaring di sepanjang lintasan kereta api karena mengganggu ketertiban umum.
Pengobatan alternatif tak jarang menawarkan metode penyembuhan yang cukup membuat mata terbelalak. Mulai dari penyembuhan penyakit jantung dengan lintah, pengobatan dengan bara api, pijat ular, hingga terapi listrik di atas bantalan rel kereta seperti yang dilakukan sejumlah warga di Jakarta Barat.
Hampir setiap pagi dan sore, sejumlah warga terlihat berbaring di atas bantalan rel kereta listrik yang berada tak jauh dari stasiun di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Mereka memanfaatkan bantalan rel tersebut sebagai media terapi listrik. Mereka percaya terapi semacam itu dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, rematik, asam urat, kegemukan dan kolesterol tinggi.
Dengan sensasi tubuh seperti tersengat listrik tegangan rendah, banyak warga yang telah merasakan manfaat terapi itu. Namun, terapi gratis itu bukan tanpa risiko. Dengan berbaring di lintasan rel yang masih aktif digunakan, mereka harus segera berdiri dan menjauh dari rel setiap mendengar tanda kereta hendak melintas.
Terapi listrik memang telah menjadi pengobatan alternatif yang banyak diminati. Menurut badan kesehatan dunia atau WHO, terapi listrik dapat menstimulasi jaringan di bawah kulit melalui saraf-saraf di dalam tubuh, juga menstimulasi sirkulasi darah di dalam tubuh oleh sistem saraf otomatis di dalam otak.
Menurut sumber lain, kepercayaan warga terhadap penyembuhan penyakit melalui terapi rel kereta api menyesatkan. Pasalnya hingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan hal tersebut mampu menjadi sarana pengobatan. Terkait hal ini Dinas Kesehatan DKI Jakarta kerahkan petugas Puskesmas setempat untuk melakukan penyuluhan terhadap warga.
“Pengobatan ini jelas lebih banyak risikonya dibanding manfaatnya. Selain membahayakan diri sendiri juga orang lain,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, Kamis (21/7). Terlebih sampai saat ini belum ada penelitian apapun yang menyatakan rel kereta dapat menyebuhkan penyakit.
Oleh karenanya Dien mengaku telah mengistruksikan petugas Puskesmas Kecamatan dan kelurahan untuk memberikan penyuluhan terhadap hal ini. “Mulai hari ini (red-kemarin) petugas Puskesmas telah dikerahkan untuk menjelaskan semua ini,” tandasnya.
Secara terpisah Kepala Daop 1 PT KA, Purnomo Radiq, menegaskan rel kereta bukan untuk terapi kesehatan. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik. “Saya belum dengar rel bisa menyembuhkan dan terapi kesehatan. Itu dilarang karena membayakan. Pada prinsipnya tidak boleh,” ujarnya.
Menurutnya, pihak PT KA akan memangil warga yang memberikan terapi rel listrik tersebut, untuk dilakukan pembinaan. “Kalau dipanggil mereka tidak datang, kita akan datangi dan diberikan pengertian tidak boleh. Akan dilakukan pembinaan karena itu tidak sepantasnya. Nanti kalau dilanjutkan kereta tidak akan jalan, kita akan bawa dasar-dasarnya kalau itu dilarang,” tandas Purnomo.
TETAP TERAPI
Sementara itu, puluhan warga terapi rel kereta api tetap melakukan pengobatannya, meskipun aparat Kelurahan Duri Kosambi memancangkan papan larangan warga melakukan terapi di rel tersebut.”kami tetap akan melakukan terapi sekalipun dilarang. Apakah kalau rakyat sehat tidak boleh dan kenapa papan larangan perda itu baru sekarang dipancangkan,’kata Budi, warga Kampung Pulo RT.004/08 Kelurahan Semanan.
Budi menderita darah tinggi, pusing dan bersin.”Kalau lagi bersin 3 sapu tangan basah semua, setelah saya terapi beberapa kali tiduran di rel sembuh.”ucapnya. Jika pemprov atau PT.KAI mau melarang silahkan pasang pagar yang tinggi atau buat rel layang, jadi warga tidak bisa masuk ke areal.
Penyembuhan melalui terapi rel amat dirasakan, kakek Sayuti,78, warga RT 007/02 Kelurahan Duri Kosambi, selama 2 tahun ia terbaring di rumah dan 3 kali diraqwat di rumah sakit. Dokter memvonisnya tulang bokongnya retak dan keropos.”Sejak saya jatuh tidak bisa duduk. Tapi setelah terapi di rel selama 2 bulan, tidak hanya duduk berjalanpun saya bisa dari rumah ke rel yang jaraknya cukup jauh.”kata kakek 22 cucu dari 8 anak.
Begitu pula Muhammad, warga RT.006/08 Semanan, menderita stroke 3 bulan,asam urat, darah tinggi, koresterol tinggi. Ia sudah berobat ke mana saja, bahkan ia pernah dibekam 9 gelas darah kotornya diambil.”ternyata saya terapi di rel bisa jalan lagi dan nggak pernah keleyengan,” jelasnya.
Warga yang datang terapi di rel dekat stasiun kereta Rawa Buaya Kelurahan Duri Kosambi banyak juga warga diluar wilayah cengkareng atau Kalideres. Seperti Johan BK warga Tangerang, ia menderita,lemah syahwat.”Beberapa kali saya terapi sekarang Ma Nyus lagi, no problem.he…he”tuturnya tertawa agak malu.
Terapi direl bukan hal yang tidak rasional karena dua orang Jepang sudah melakukan riset terhadap sejumlah warga yang melakukan terapi di rel.”jangan hanya mendengar atau melihat orang yang diterapi. Tapi buktikan dan rasakan dari aliran magnit yang disalurkan ke tubuh mengembalikan kesehatan.”kata Ny.Sakinah,42, warga Rw 08 Semanan.
Wakil Lurah Duri Kosambi, Firmansyah bersama Bimas dan babinsa, kamis sore memancangkan papanlarangan .Dilarang duduk, tiduran, berbaring di sepanjang lintasan kereta api karena mengganggu ketertiban umum.

Judul: Terapi Listrik di Rel Kereta
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Jumat, Juli 22, 2011
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Jumat, Juli 22, 2011
0 comments:
Posting Komentar