Jumat, 05 Agustus 2011

Nafsu menggadaikan Islam

Tak terasa Ramadan bergulir lima hari, Jumat (5/8) ini. Bulan Suci penuh pengampunan menapak 1432 Hijriyah, teramat lama dari masa Nabi Besar Muhammad SAW.

Ramadan senantiasa menjadi momentum teramat dirindukan kaum muslimin di mana pun di Bumi. Bulan yang menyediakan kesempatan "emas" memohon ampunan, sekaligus berharap ridho Allah SWT.

Kapan pun dan di mana pun, Ramadan menyimpan daya tarik luar biasa secara religius. Masa lalu, mulai surau hingga masjid agung jadi tempat indah nan istimewa. Merdu lantunan Ayat-ayat Suci Al-Quran, hening saat i'tikaf, dan khidmat saat menunaikan ibadah wajib dan sunnah.

Kesemarakaan kian meluas, apalagi pasca-era reformasi. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam pun bisa mengakses kegiatan hingga simbol-simbol religius melalui berbagai piranti canggih.

Di mana pun dan kapan pun, termasuk saat berdiam di rumah sepanjang hari. Akses dakwah tersedia di layanan mobiling telepon seluler. Konsultasi religi gampang diakses melalui internet. Aneka hiburan gratis berbau Ramadan tinggal pencet televisi di rumah.

Luar biasa, era madani menopang peradaban kehidupan umat saat ini. Namun, seperti histori kehadiran Adam dan Hauwa ke dunia sebagai manusia pertama. Eksistensi dan godaan syetan semakin luar biasa pula.

Maraknya simbol-simbol religus yang marak di televisi, jalan raya, perkantoran hingga pusat bisnis, justru cenderung kehilangan hakekat kereligiusan Islam yang Rahmatan lil al-Amin.

Mulai warna hijau yang menyalut aneka material, hingga hiburan menjelang buka dan sahur di televisi, melenceng dari garda puritanisme atau ikhtiar memurnikan ajaran Islam.

Bagaimana bisa terjadi panggilan salat yang ditayang televisi swasta nasional disertai iklan mobil? Mengapa kita tega mengeruk uang yang tak bisa dibawa mati, saat adzan berkumandang? Aneka hiburan media audio visual, menjelang buka dan sahur kehilangan makna religi.

Kembali ke Allah
Program bertitel Tuker Hadiah Ramadhan (THR) di satu televisi juga tuna makna Ramadan yang sarat ikhtiar kefitrian diri, menahan hawa nafsu diri, introspeksi dan mohon ampunan demi ridho Allah.

Tayangan THR secara live itu melibatkan kaum Hawa. Sekedar mendapat handphone atau barang lainnya, peserta disyaratkan merias wajah secara kocak (tak lazim), berlipstik melampaui dandanan sinden (penyanyi) ala gamelan Jawa.

Ragam kuis menggiurkan pun mencerabut batas etika intelektual manusia yang berderajat tinggi. Jawaban kuis tak memerlukan karya intelektual, remeh-temeh, bahkan tak jarang dijawab sang presenter sendiri. Penelepon ketiban uang sejuta atau ratusan ribu rupiah.

Di mana edukasinya? Momentum Ramadan telah berbelok untuk ber-ha-ha-he-he, tuna safaat dan manfaat kehidupan religius. Sejatinya rahmat, hidayah, maghfirah atau handphone yang kita cari di Bulan Suci?

Kaum muslimin madani, patut cerdas lahir batin. Jangan terpedaya dan larut perangkap syetan. Umumnya yang kasat mata, "manis-manis," indah-indah, bahkan menggiurkan, justru membutakan kesadaran sejati serta mata batin kita.

Apapun yang kita dapat secara mudah di dunia, bukan investasi haq, tidak pula bekal haq untuk dibawa ketika Allah sewaktu-waktu memanggil kita. Surah ke-102 Al-Quran, At-Takasur, jelas memeringatkan kita dari keterpedayaan akan hidup bermegah-megahan di dunia.

Nafsu bermegah-megahan secara duniawi, cenderung melalaikan kesejatian tujuan hidup manusia. Kita baru menyadari sebagai kesalahan, manakala maut menjemput. Pastinya, uang dan handphone hasil ha-ha-he-he saat malam-malam Ramadan, tak bisa dibangga-banggakan di akhirat.

Mari kembali ke jalan haq Allah SWT! Isi Ramadan dengan ketaatan dan ketawakalan kepada Allah, berserah diri dan tetap tawadhu mencuci fitra diri dari nafsu dan angkara murka.
Tak terasa Ramadan bergulir lima hari, Jumat (5/8) ini. Bulan Suci penuh pengampunan menapak 1432 Hijriyah, teramat lama dari masa Nabi Besar Muhammad SAW.

Ramadan senantiasa menjadi momentum teramat dirindukan kaum muslimin di mana pun di Bumi. Bulan yang menyediakan kesempatan "emas" memohon ampunan, sekaligus berharap ridho Allah SWT.

Kapan pun dan di mana pun, Ramadan menyimpan daya tarik luar biasa secara religius. Masa lalu, mulai surau hingga masjid agung jadi tempat indah nan istimewa. Merdu lantunan Ayat-ayat Suci Al-Quran, hening saat i'tikaf, dan khidmat saat menunaikan ibadah wajib dan sunnah.

Kesemarakaan kian meluas, apalagi pasca-era reformasi. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam pun bisa mengakses kegiatan hingga simbol-simbol religius melalui berbagai piranti canggih.

Di mana pun dan kapan pun, termasuk saat berdiam di rumah sepanjang hari. Akses dakwah tersedia di layanan mobiling telepon seluler. Konsultasi religi gampang diakses melalui internet. Aneka hiburan gratis berbau Ramadan tinggal pencet televisi di rumah.

Luar biasa, era madani menopang peradaban kehidupan umat saat ini. Namun, seperti histori kehadiran Adam dan Hauwa ke dunia sebagai manusia pertama. Eksistensi dan godaan syetan semakin luar biasa pula.

Maraknya simbol-simbol religus yang marak di televisi, jalan raya, perkantoran hingga pusat bisnis, justru cenderung kehilangan hakekat kereligiusan Islam yang Rahmatan lil al-Amin.

Mulai warna hijau yang menyalut aneka material, hingga hiburan menjelang buka dan sahur di televisi, melenceng dari garda puritanisme atau ikhtiar memurnikan ajaran Islam.

Bagaimana bisa terjadi panggilan salat yang ditayang televisi swasta nasional disertai iklan mobil? Mengapa kita tega mengeruk uang yang tak bisa dibawa mati, saat adzan berkumandang? Aneka hiburan media audio visual, menjelang buka dan sahur kehilangan makna religi.

Kembali ke Allah
Program bertitel Tuker Hadiah Ramadhan (THR) di satu televisi juga tuna makna Ramadan yang sarat ikhtiar kefitrian diri, menahan hawa nafsu diri, introspeksi dan mohon ampunan demi ridho Allah.

Tayangan THR secara live itu melibatkan kaum Hawa. Sekedar mendapat handphone atau barang lainnya, peserta disyaratkan merias wajah secara kocak (tak lazim), berlipstik melampaui dandanan sinden (penyanyi) ala gamelan Jawa.

Ragam kuis menggiurkan pun mencerabut batas etika intelektual manusia yang berderajat tinggi. Jawaban kuis tak memerlukan karya intelektual, remeh-temeh, bahkan tak jarang dijawab sang presenter sendiri. Penelepon ketiban uang sejuta atau ratusan ribu rupiah.

Di mana edukasinya? Momentum Ramadan telah berbelok untuk ber-ha-ha-he-he, tuna safaat dan manfaat kehidupan religius. Sejatinya rahmat, hidayah, maghfirah atau handphone yang kita cari di Bulan Suci?

Kaum muslimin madani, patut cerdas lahir batin. Jangan terpedaya dan larut perangkap syetan. Umumnya yang kasat mata, "manis-manis," indah-indah, bahkan menggiurkan, justru membutakan kesadaran sejati serta mata batin kita.

Apapun yang kita dapat secara mudah di dunia, bukan investasi haq, tidak pula bekal haq untuk dibawa ketika Allah sewaktu-waktu memanggil kita. Surah ke-102 Al-Quran, At-Takasur, jelas memeringatkan kita dari keterpedayaan akan hidup bermegah-megahan di dunia.

Nafsu bermegah-megahan secara duniawi, cenderung melalaikan kesejatian tujuan hidup manusia. Kita baru menyadari sebagai kesalahan, manakala maut menjemput. Pastinya, uang dan handphone hasil ha-ha-he-he saat malam-malam Ramadan, tak bisa dibangga-banggakan di akhirat.

Mari kembali ke jalan haq Allah SWT! Isi Ramadan dengan ketaatan dan ketawakalan kepada Allah, berserah diri dan tetap tawadhu mencuci fitra diri dari nafsu dan angkara murka.
thumbnail
Judul: Nafsu menggadaikan Islam
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait Islam :

0 comments:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz