JAKARTA– Beragam cara coba ditempuh otoritas lalu lintas demi mengurai kemacetan di Jakarta. Polda Metro Jaya mematangkan konsep pembatasan kendaraan melalui sistem warna dan berencana menguji cobanya November mendatang.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Royke Lumowa menuturkan, sampai kemarin kebijakan pembatasan kendaraan berdasarkan warna masih dalam pembahasan.Dia memastikan kebijakan itu diberlakukan bersamaan dengan pelaksanaan SEA Games 2011 November.
”Untuk SEA Games kami akan berlakukan, terutama untuk jalur-jalur yang dilewati oleh para atlet dan ofisial,”ujarnya di Jakarta kemarin. Seperti diberitakan, pertumbuhan kendaraan yang tidak seimbang dengan perkembangan luas jalan berakibat fatal pada sistem transportasi di Jakarta.
Pada 2014, transportasi di Jakarta diprediksi lumpuh total akibat kemacetan. Demi mencegah hal itu, berbagai kalangan mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk memberlakukan kebijakan ekstrem. Royke mengatakan,ada beberapa kriteria jalan yang memang bisa dilakukan pembatasan kendaraan dengan sistem warna.
Di jalan-jalan protokol, seperti Sudirman-Thamrin dan Gatot Soebroto serta beberapa jalan yang dinilai cukup padat, bisa diberlakukan kebijakan tersebut. Seluruh jalan yang akan memberlakukan pembatasan harus terintegrasi dengan bus Transjakarta, sehingga pengguna jalan memiliki alternatif transportasi.
Pembatasan berdasarkan warna kendaraan, seperti gelap dan terang,lebih mudah pelaksanaannya dan pengawasannya. Berbeda jika pembatasan kendaraan menggunakan sistem pelat nomor ganjil genap yang sulit pengawasannya. “Misalnya hitam,abu-abu,biru tua,cokelat,masuk dalam kategori warna gelap. Sedangkan warna merah,biru muda,hijau, putih,merah jambu masuk kategori warna terang,” ujar Royke.
Dia yakin pembatasan kendaraan melalui sistem warna dapat mengurai kemacetan hingga 50% di jalan protokol. Keyakinan itu didasarkan pada kesuksesan Beijing, China, dan kota besar lainnya di Eropa yang lebih dulu memberlakukan sistem itu.”Kenapa kita tidak coba,di negara lain seperti di Asia dan Eropa sudah lama diterapkan hasilnya cukup sukses, ”paparnya.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengaku masih menunggu waktu uji coba pembatasan berdasarkan warna kendaraan.” Kami masih akan lakukan pemaparan di depan Gubernur. Kami yakin usai pemaparan ini akan bisa dilaksanakan uji coba,”katanya.
Dia menjelaskan,pembatasan kendaraan berdasarkan warna merupakan alternatif mengurai kemacetan sembari menunggu aturan jalan berbayar elektronik.Pembatasan kendaraan berdasarkan warna kendaraan dilakukan untuk sementara waktu. ”Jalan berbayar baru akan direalisasikan 2012, jadi sementara kita gunakan sistem ini dahulu,”ungkapnya.
Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Alvinsyah mengatakan, penanggulangan kemacetan di Jakarta membutuhkan kebijakan ekstrem yang didukung kemauan politik kuat. Dalam pandangannya, menyelesaikan problem kemacetan di Ibu Kota tidak sebatas tanggung jawab otoritas di DKI Jakarta. “Ini tanggung jawab Jabodetabek juga,”katanya.
Dia menilai penyelesaian masalah kemacetan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak sebatas problem transportasi semata. Penyelesaian harus mencakup tata ruang di Jabodetabek. “Ini yang sering membuat kita keliru. Kita terjebak seakan-akan semua dibebankan oleh pakar transportasi,” katanya.
Dalam pandangannya,masalah ini tidak bisa hanya dibebankan kepada DKI Jakarta. Pemerintah pusat justru memiliki tanggung jawab terbesar untuk menyelaraskan pembangunan tata ruang di seluruh titik kemacetan. ”Semua sektor harus sinkron.Tidak hanya sektor transportasi,tapi semua sektor harus sinkron,” kata Alvinsyah.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti,Yayat Supriatna mengatakan, pemerintah harus bersikap tegas dalam menyelesaikan problem kemacetan di Jakarta. Pemerintah tidak bisa sekadar mengumbar janji-janji,namun tidak ada penyelesaian pasti. ”Monorel tidak jadi, pemindahan ibu kota juga. Nah, apa yang jadi dan telah dibuat pemerintah,”katanya.
Dia mengkritisi berbagai langkah yang belum juga berhasil menuntaskan masalah kemacetan. Ke depan,menurutnya, pemerintah tidak boleh setengah- setengah dalam mengeluarkan kebijakan. ”Hari ini kita melihat kinerja dari pemerintah masih dibilang seremonial belaka, tidak pernah ada niat untuk membuat transportasi yang murah,aman,dan nyaman,”tandasnya. (sindo - helmi syarif/ epan hasyim siregar)
JAKARTA– Beragam cara coba ditempuh otoritas lalu lintas demi mengurai kemacetan di Jakarta. Polda Metro Jaya mematangkan konsep pembatasan kendaraan melalui sistem warna dan berencana menguji cobanya November mendatang.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Royke Lumowa menuturkan, sampai kemarin kebijakan pembatasan kendaraan berdasarkan warna masih dalam pembahasan.Dia memastikan kebijakan itu diberlakukan bersamaan dengan pelaksanaan SEA Games 2011 November.
”Untuk SEA Games kami akan berlakukan, terutama untuk jalur-jalur yang dilewati oleh para atlet dan ofisial,”ujarnya di Jakarta kemarin. Seperti diberitakan, pertumbuhan kendaraan yang tidak seimbang dengan perkembangan luas jalan berakibat fatal pada sistem transportasi di Jakarta.
Pada 2014, transportasi di Jakarta diprediksi lumpuh total akibat kemacetan. Demi mencegah hal itu, berbagai kalangan mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk memberlakukan kebijakan ekstrem. Royke mengatakan,ada beberapa kriteria jalan yang memang bisa dilakukan pembatasan kendaraan dengan sistem warna.
Di jalan-jalan protokol, seperti Sudirman-Thamrin dan Gatot Soebroto serta beberapa jalan yang dinilai cukup padat, bisa diberlakukan kebijakan tersebut. Seluruh jalan yang akan memberlakukan pembatasan harus terintegrasi dengan bus Transjakarta, sehingga pengguna jalan memiliki alternatif transportasi.
Pembatasan berdasarkan warna kendaraan, seperti gelap dan terang,lebih mudah pelaksanaannya dan pengawasannya. Berbeda jika pembatasan kendaraan menggunakan sistem pelat nomor ganjil genap yang sulit pengawasannya. “Misalnya hitam,abu-abu,biru tua,cokelat,masuk dalam kategori warna gelap. Sedangkan warna merah,biru muda,hijau, putih,merah jambu masuk kategori warna terang,” ujar Royke.
Dia yakin pembatasan kendaraan melalui sistem warna dapat mengurai kemacetan hingga 50% di jalan protokol. Keyakinan itu didasarkan pada kesuksesan Beijing, China, dan kota besar lainnya di Eropa yang lebih dulu memberlakukan sistem itu.”Kenapa kita tidak coba,di negara lain seperti di Asia dan Eropa sudah lama diterapkan hasilnya cukup sukses, ”paparnya.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengaku masih menunggu waktu uji coba pembatasan berdasarkan warna kendaraan.” Kami masih akan lakukan pemaparan di depan Gubernur. Kami yakin usai pemaparan ini akan bisa dilaksanakan uji coba,”katanya.
Dia menjelaskan,pembatasan kendaraan berdasarkan warna merupakan alternatif mengurai kemacetan sembari menunggu aturan jalan berbayar elektronik.Pembatasan kendaraan berdasarkan warna kendaraan dilakukan untuk sementara waktu. ”Jalan berbayar baru akan direalisasikan 2012, jadi sementara kita gunakan sistem ini dahulu,”ungkapnya.
Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Alvinsyah mengatakan, penanggulangan kemacetan di Jakarta membutuhkan kebijakan ekstrem yang didukung kemauan politik kuat. Dalam pandangannya, menyelesaikan problem kemacetan di Ibu Kota tidak sebatas tanggung jawab otoritas di DKI Jakarta. “Ini tanggung jawab Jabodetabek juga,”katanya.
Dia menilai penyelesaian masalah kemacetan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak sebatas problem transportasi semata. Penyelesaian harus mencakup tata ruang di Jabodetabek. “Ini yang sering membuat kita keliru. Kita terjebak seakan-akan semua dibebankan oleh pakar transportasi,” katanya.
Dalam pandangannya,masalah ini tidak bisa hanya dibebankan kepada DKI Jakarta. Pemerintah pusat justru memiliki tanggung jawab terbesar untuk menyelaraskan pembangunan tata ruang di seluruh titik kemacetan. ”Semua sektor harus sinkron.Tidak hanya sektor transportasi,tapi semua sektor harus sinkron,” kata Alvinsyah.
Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti,Yayat Supriatna mengatakan, pemerintah harus bersikap tegas dalam menyelesaikan problem kemacetan di Jakarta. Pemerintah tidak bisa sekadar mengumbar janji-janji,namun tidak ada penyelesaian pasti. ”Monorel tidak jadi, pemindahan ibu kota juga. Nah, apa yang jadi dan telah dibuat pemerintah,”katanya.
Dia mengkritisi berbagai langkah yang belum juga berhasil menuntaskan masalah kemacetan. Ke depan,menurutnya, pemerintah tidak boleh setengah- setengah dalam mengeluarkan kebijakan. ”Hari ini kita melihat kinerja dari pemerintah masih dibilang seremonial belaka, tidak pernah ada niat untuk membuat transportasi yang murah,aman,dan nyaman,”tandasnya. (sindo - helmi syarif/ epan hasyim siregar)

Judul: Pembatasan Warna Mobil Diberlakukan
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Kamis, Agustus 04, 2011
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Kamis, Agustus 04, 2011

0 comments:
Posting Komentar